Selasa, 23 November 2010

Manchester City: Menggapai Prestasi, Sensasi atau Mimpi?

Heru Widodo - detiksport

Jakarta - Guyuran mata uang baht dan dinar yang bergantian mengisi kas keuangan klub Manchester City, salah satu penghuni Liga Premier Inggris, ternyata belum berdampak secara signifikan pada peningkatan prestasi klub tersebut.

Pergantian kepemilikan klub berjuluk The Citizens yang sebelumnya dimiliki oleh seorang konglomerat sekaligus mantan perdana menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, dan kemudian menjualnya kepada Sheikh Mansour bin Zayed al Nahyan, adik kandung penguasa Abu Dhabi dan salah satu politisi paling berpengaruh di Uni Emirat Arab (UEA), sampai saat ini belum berkorelasi positif terhadap penampilan klub tersebut di lapangan hijau.

Kinerja City di musim kompetisi 2008/2009 ini naik turun bak rollercoaster. Setelah menyelesaikan 25 laga, mereka harus puas berada di peringkat sembilan dengan poin 31, hasil raihan 9 kali kemenangan, 4 kali seri dan menelan 12 kali kekalahan. Meskipun memiliki rekor memasukkan gol yang sangat bagus sejumlah 42 gol, namun mereka tidak memiliki lini belakang yang tangguh menghadang serangan lawan, sehingga terpaksa kemasukan 34 gol, atau bisa dibilang lebih dari 1 gol per pertandingan.

Sementara di ajang Piala Liga Inggris, klub Eastlands ini harus tersingkir di babak kedua setelah tumbang melawan klub Divisi I, Brighton & Hove Albion FC. Sedangkan di ajang FA Cup, nasib mereka pun sama saja ketika harus kalah 0-3 di babak ketiga menghadapi Nottingham Forest, klub dari Divisi Championship, satu level di bawah Liga Premier.

Ramuan yang diusung Mark Hughes sebagai manajer belum bisa memenuhi ambisi Sheikh Mansour yang ingin klubnya bisa menembus jajaran Big Four Liga Inggris. Dukungan dana melimpah dari sang pemilik pun belum mampu menjadi daya tarik bagi pemain-pemain terbaik dunia untuk bergabung menjadi anggota skuad Biru Langit ini.

Selama bursa transfer musim dingin yang berakhir Senin sore kemarin waktu setempat, klub yang berkandang di City of Manchester Stadium ini hanya berhasil menggaet pemain-pemain yang bisa dibilang masuk Grade B dari pemain yang selama ini beredar di Liga Inggris.

Mereka hanya bisa merekrut full back Inggris, Wayne Bridge, dari Chelsea, striker Wales, Craig Bellamy dari West Ham, gelandang timnas Belanda, Nigel de Jong dari Hamburg SV dan kiper timnas Irlandia, Shay Given dari Newcastle United.

Sensasi kedua yang ingin mereka hadirkan, setelah di awal musim ini sukses membeli pemain depan timnas Brazil, Robinho dengan nilai £32,5 juta dari klub raksasa Spanyol, Real Madrid, ternyata menemui jalan buntu. Gelontoran uang yang sudah disiapkan sebagai magnet penarik Kaka dari klub AC Milan, Italia tidak digubris oleh sang pemain. Meskipun sempat tergoda, Ricardo Izecson dos Santos Leite alias Kaka akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan di Milan yang sudah dianggap sebagai keluarga baginya.

Dengan skuad yang dimilikinya sekarang ini, Hughes diharapkan bisa memenuhi target dari Sheikh Mansour, atau paling tidak menyamai prestasi manajer yang digantikannya Sven-Goran Eriksson di mana di akhir musim 2007/2008, City berada pada peringkat 9, setelah di dua musim sebelumnya ada di posisi 14 dan 15.

Hughes dibayang-bayangi ancaman pemecatan jika tidak bisa memenuhi target Sheikh Mansour. Karir mantan manager Blackburn Rovers dan timnas Wales dalam menangani City bisa diputus di akhir musim ini. Sheikh Mansour pun sudah menyiapkan sederet penggantinya, beberapa nama pun sudah mulai disebut-sebut seperti Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, Roberto Mancini, Fabio Capello, Luiz Felipe Scolari dan mungkin akan menarik kembali Eriksson.

Namun jika berkaca pada keberhasilan Chelsea meraih juara Liga Inggris di musim 2004/2005 dan 2005/2006, City mestinya tidak perlu berganti-ganti manager setiap musimnya. Thaksin ketika masih menjadi pemilik klub tidak perlu terburu-buru mengganti Eriksson dengan Hughes. Dengan portfolio yang dimiliki Eriksson, harusnya dia masih mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya meramu tim Eastlands.

Di musim pertamanya, Mourinho memang langsung sukses membawa Chelsea menjadi juara liga Inggris setelah puasa 50 tahun lamanya. Namun sukses tersebut tidak sepenuhnya instan, yang tidak boleh dilupakan adalah peran manajer Chelsea sebelumnya, Claudio Ranieri. Selama 5 musim menangani Chelsea semenjak tahun 2000, Ranieri telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam pola permainan dan membangun kekompakan tim Chelsea, yang terbukti dengan kenaikan peringkat secara konsisten setiap musimnya.

Masuknya Roman Abramovich dengan suntikan dana yang melimpah semakin memperkuat skuad Chelsea. Di akhir musim 2003/2004, Ranieri membawa Chelsea pada peringkat 2, di bawah Arsenal yang menjadi juara liga dan di atas Manchester United. Ambisi juara yang dimiliki Abramovich membuatnya tak sabar sehingga mengganti Ranieri dengan Jose Mourinho yang baru saja sukses membawa FC Porto menjadi Juara Liga Champions Eropa musim 2003/2004. Dengan skuad yang diwarisi dari Ranieri dan tambahan pemain-pemain baru, Chelsea sukses menjadi juara Liga Premier Inggris dua kali berturut-turut.

Di akhir musim nanti kita akan melihat bagaimana prestasi City dan nasib Hughes. Namun Sheikh Mansour harus bersabar untuk melihat City menggapai prestasi dan menembus Big Four Liga Inggris. Jika tidak demikian, Sheikh Mansour hanya bisa membuat sensasi belaka dan hanya bermimpi City masuk jajaran klub elite dunia. Sama halnya dengan mimpi dan sensasi dari PSSI untuk menggelar Piala Dunia 2018 atau 2022 di Indonesia.

==

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di Detiksport edisi 16 Februari 2009
http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/02/16/151559/1085591/425/man-city-menggapai-prestasi-sensasi-atau-mimpi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar